Langkah ke 8 Sapto Satrio Mulyo Agus Pranoto: 2019 Bogor Sehat - Teras Bojonggede

Bersama Membangun Kabupaten Bogor

Berbasis Kearifan Lokal

#PolitikTanpaMahar

Agus Pranoto: 2019 Bogor Sehat

Bojonggede (TerasBojonggede) - Tahun 2019, tepatnya tanggal 17 April 2019, kita akan melaksanakan Pemilu Serentak. Sebagai WNI yang baik, kita hendaknya tidak Golput, dan menggunakan Hak Pilih. Agus Pranoto, sebagai Caleg DPRD Provinsi Jabar dari Partai NasDem, berkewajiban memenangkan Jokowi-Maruf Amin sebagai Presiden/Wakil Presiden 2019-2024, dan memenangkan Partai NasDem. 

Dalam setiap kesempatan bersosialisai dengan tokoh masyarakat, tokoh pemuda, dan masyarakat pada umumnya, dirinya selalu menyampaikan “2019 Bogor Sehat”. Bogor Sehat adalah mencakup 3 hal. 

Pertama, “Sejahtera” yakni tercukupinya kebutuhan sandang, pangan, pendidikan dan kesehatan. Kedua, “Aman”, yakni situasi dan kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat yang kondusif. Ketiga, “Tenteram”, yakni suatu kondisi masyarakat yang memiliki jiwa yang damai dan tidak mudah termakan berita hoax. 

Untuk mewujudkan “2019 Bogor Sehat”, menurutnya, harus ada komitmen yang sama untuk membangun Bogor Sehat, baik komitmen dari Presiden dan DPR RI, Gubernur dan DPRD Provinsi, serta Bupati dan DPRD Kabupaten.

Komitmen Pemerintahan Jokowi sangat jelas dan nyata. Demikian pula, Gubernur Jabar dan Bupati Bogor terpilih. Presiden dan Gubernur terpilih di dukung Partai NasDem, dan Bupati Bogor didukung partai yang berkoalisi dengan Partai NasDem. 

Untuk terwujudnya “2019 Bogor Sehat”, Presiden, Gubernur dan Bupati, perlu mendapat dukungan Anggota DPR RI, DPRD Provinsi/Kabupaten yang berasal dari Partai NasDem. Mengapa Partai NasDem ? 

Jawabannya, Partai NasDem sejak berdiri tahun 2011 sampai dengan saat ini, tetap konsisten dengan gagasan besarnya, yakni “Restorasi Indonesia” dan konsisten menerapkan budaya “Politik Tanpa Mahar”, jelasnya. 

Lebih lanjut, Kang Agus, begitu panggilan akrabnya, menjelaskan, dirinya menyatakan rasa keprihatinannya terhadap 3 (tiga) hal. 

Pertama, situasi dan kondisi perpolitikan di Indonesia yang cenderung transaksional. 
Kedua, pandangan masyarakat terhadap perilaku sebagian Anggota Dewan, baik DPR RI, DPRD Provinsi dan Kabupaten/Kota yang tidak amanah dan bersikap korup.
Ketiga, Biaya politik yang besar. Informasi yang saya peroleh, biaya kampanye sorang Caleg DPRD Provinsi bisa mencapai 1 sampai 1,5 milyar rupiah!. Dirinya tak habis pikir, untuk apa Caleg rela menghabiskan biaya sebesar itu hanya untuk menjadi Anggota DPRD Provinsi? 

Mungkinkah bila terpilih akan amanah, dan akan memperhatikan masyarakat yang memilihnya?

Melihat hal itu, dan keinginannya untuk ikut mewujudkan “2019 Bogor Sehat”, dirinya menjadi Caleg DPRD Provinsi Jabar dari Partai NasDem. 

Ketika ditanya awak media, mengapa memilih Partai NasDem dan berapa biaya kampanye?, Kang Agus menjelaskan, 

Pertama, karena Partai NasDem menerpkan “Politik Tanpa Mahar”. Seringkali, saya diundang DPW dan DPD di Hotel Berbintang. Sampai saat ini, saya tidak dimintai biaya, satu rupiahpun!. 
Kedua, sebagai seorang “Pensiunan PNS”, jujur, saya tidak memiliki uang banyak. Yang saya miliki dan yang terbesar, hanya “Niat Untuk Menjadi Wakil Rakyat, Yang Insya Allah Amanah, Aspiratif, dan Berintegritas”. 

Modal kampanye, hanya mengandalkan pertemanan, silaturakmi, penyebaran brosur, serta tandem di dunia maya dengan Caleg DPR RI dan Caleg DPRD Kabupaten sebanyak 12 orang di 6 Dapil. Biaya yang saya keluarkan, hanya untuk mencetak brosur yang nilainya tidak lebih dari 25 juta rupiah saja.

Dalam melakukan sosialisasi dan kampanye dengan tokoh masyarakat, pemuda, dan masyarakat umum, dirinya selalu menyampaikan pentingnya perilaku politik tanpa mahar, dan visi, misi, serta program kerjanya apabila diberikan amanah. 

Dari pengalamannya blusukan dan bersilaturahmi dengan masyarakat di di desa-desa Kabupaten Bogor, dirinya bersyukur, ternyata, masyarakat terutama yang berada di perkampungan, berperilaku pragmatis dan “wani piro”, tidak sepenuhnya benar. Dengan pendekatan kekeluargaan dan penjelasan yang rasional, serta dilandasi niat yang baik, dirinya mendapatkan dukungan yang positif.  (EW)

Sapto Satrio Mulyo : Kembali ke Kearifan Lokal

Sebuah pola kehidupan peninggalan Leluhur kita yang banyak dilupakan. Sejatinya, Kearifan Lokal tidak bertolak belakang dengan Modernisasi, tetapi justru sebagai rel atau pijakan kemana arah Bangsa ini akan berlabuh dengan Sehat


Bojonggede yang ber-Kearifan Lokal, pasti lebih maju, Sejahtera Aman Tentram


Bogor Sehat (Sejahtera, Aman dan Tentram)